weLLLcoommme.............!

cOrat - CoreT isii Hati..
Disaat merasa jenuh,

mencoba untuk menuangkan apa yang di pikirkan dalam sebuah tulisan.

Kamis, 24 Februari 2011

LP ASKEP PADA IBU DENGAN POST PARTUM (MASA NIFAS)

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU DENGAN POST PARTUM (MASA NIFAS)
Ny. “E” di RSUP Ruang Kebidanan A (VK)


1. PENGERTIAN:
Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu. (Abdul Bari. S, dkk, 2002)
Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelim hamil. Lama masa nifas ini yaitu 6-8 minggu. (Rustam Mochtar, 1998 )
Masa Nifas diBagi Dalam 3 Periode:
1. Early post partum : Dalam 24 jam pertama.
2. Immediate post partum : Minggu pertama postpartum.
3. Late post partum : Minggu kedua sampai dengan minggu keenam.

2. PERUBAHAN FISIOLOGIS DAN PSIKOLOGIS
I. Uterus :
1. Proses Involusi
• Yaitu proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan. Proses ini dimulai setelah placenta lahir pada proses ini terjadi proses autolisis yaitu proses perusakan secara langsung terhadap jaringan hipertropi (pembesaran sel yang ada) selama hamil.
• Kontraksi hormon oksitosin yang dilepas dari kelenjar hipofisis posterior, memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengkompresi pembuluh darah Tempat placenta.
• Proses involusi daerah implantasi placenta 2-3 hari pelepasan jaringan nekrotik, 7 hari post partum ke bentuk lapisan basal, 15 hari post partum regenerasi endometrium kecuali pada bekas placenta. 6 minggu post partum perkembangan sel-sel epitel endometrium.
b. Lochea
• Yaitu Rabas (cairan) uterus yang keluar setelah bayi lahir.
• Jenis dan karakteristik lokia :
- »Lochea rubra (Cruenta ): berisi darah segar dan sisa – sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, verniks kaseosa, lanugo, dam mekonium, selama 2 hari post partum.
- » Lochea Sanguinolenta : berwarna kuning berisi darah dan lendir, hari 3 – 7 post partum.
- » Lochea serosa : berwarna kuning cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7 - 14 post partum
- » Lochea alba : cairan putih, setelah 2 minggu
- » Lochea purulenta : terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk
- » Lochea stasis : lochia tidak lancer keluarnya.1.
c. Serviks
Setelah melahirkan serviks menjadi lunak, edematosa, tipis dan rapuh, sedikit laserase.

II. Vagina dan Perineum
- Vagina yang semula sangat tegang akan kembali secara bertahap ke ukuran sebelum hamil (6-8 minggu setelah bayi lahir).
- Rugae akan mulai terlihat sekitar minggu ke- 4 dan pada umumnya rugae akan memipih secara permanen.
- Proses penyembuhan luka episiotomi sama dengan operasi lain dan luka episiotomy sembuh sebelum minggu ke-6.

III. Topangan Otot Panggul
Struktur penopang uterus dan vagina bisa mengalami cedera sewaktu melahirkan dan masalah ginekologis dapat timbul dikemudian hari karena jaringan dasar
 Sitem Endoktrin
o Hormon Plasenta
o Hormon Hifofisis
 Abdomen
o Setelah persalinan dinding perut longgar sehingga masih seperti orang hamil.
o Dalam 2 minggu dinding abdomen akan rileks.
o Dalam 6 minggu akan pulih seperti sebelum hamil.
 Sistem Urinaria
o Fungsi ginjal menurun saat postpartum dan kembali normal dalam waktu 1 bulan.
o Adanya odema trigonium yang menimbulkan obstruksi uretra sehingga terjadi retensi urin.
o Diaforesis merupakan salah satu mekanisme tubuh untuk mengurangi cairan yang teretansi
dalam tubuh, terjadi selama 2 hari setelah melahirkan.
 Sistem Pencernaan
o Pada masa awal post partum dapat terjadi penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna, penurunan bising usus, rasa mual, konstipasi, rasa haus dan lapar.
 Payudara
o Setelah bayi lahir dengan cepat terjadi penurunan konsentrasi hormon yang enstimualsi perkembangan payudara, sebagian hormon-hormon ini kembali ke kadar Sebelum hamil yang ditentukan oleh ibu menyusui atau tidak. Ketika bayi menghisap puting, reflek saraf merangsang lobus posterior kelenjar pituitary untuk mensekresi hormon oksitasin. Ketika ASI di hisap maka sel-sel laktasi terangsang untuk Menghasilkan ASI yang lebih banyak.
 Sistem Kardiovaskuler
o Denyut jantung volume sekuncup dan curah jantung meningkat segera setelah melakukan persalinan (lebih tinggi selama 30-60 menit).
o Curah jantung normal 8-10 minggu setelah melahirkan.
o Tanda-tanda vital setelah melahirkan dalam batas normal, bila temperatur selama 24 jam pertama meningkat sampai 38 derajat (keadaan ini sebagai akibat dehidrasi denyut nadi), tekanan darah sedikit berubah atau menetap, dan evaluasi rutin perlu dilakukan selama 48 jam pertama.
 Sistem Neurologi
Perubahan neurologis pada masa postpartum lebih
 Sistem Muskuloskletal
o Adaptasi sistem muskuloskeletal yang terjadi selama hamil secara langsung kembali pada masa postpartum.
o Adaptasi ini mencakup antara lain : relaksasi, mobilitas dan perubahan pusat berat akibat pembesaran rahim.
 Sistem Integumen
o Kloasma yang muncul pada masa hamil bisa menghilang.
o hiperpegmentasi di areola dan linea nigra tidak menghilang seluruhnya atau dapat menetap,
o kulit yang menegang pada payudara, abdomen, paha dan panggul mungkin memudar, tetapi tidak menghilang.
o Rambut halus yang tumbuh pada saat hamil akan menghilang.
o Olaporesis perubahan yang paling jelas terlihat pada sistem integumen.
 Sistem kekebalan
Psikologis
Periode ini di ekspresikan oleh Reva Rubin
yang terjadi tiga tahap, yaitu :
1. Taking In Periode (1-2 hari setelah persalinan)
2. Taking Hold Periode (3-4 hari setelah persalinan )
3. Periode Letting Go (umumnya setelah ibu kembali ke rumah)
Perawatan Pasca Persalinan
 Mobilisasi
-  Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur terlentang selama 8 jam pasca persalinan.
- Kemudian boleh miring-miring kekanan dan kekiri untuk mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli.
- Pada hari ke 2 diperbolehkan duduk, hari ke 3 jalan-jalan, dan hari ke 4 atau 5 sudah diperbolehkan pulang.
- Mobilisasi diatas mempunyai variasi, bergantung pada komplikasi persalinan, nifas dan sembuhnya luka-luka.
 Diit
- Makanan harus bermutu, bergizi, dan cukup kalori, serta makan-makanan yang mengandung protein, banyak cairan, tinggi serat, sayur-sayuran dan buah-buahan.
 Miksi
- Hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri secepatnya.
- Bila kandung kemih penuh dan wanita sulit kencing, sebaiknya dilakukan kateterisasi.
 Defekasi
- Buang air besar harus dilakukan 3-4 hari pasca persalinan.
- Bila masih sulit buang air besar dan terjadi konstipasi apalagi BAB keras dapat diberikan obat laksans per oral atau per rektal.
 Perawatan Payudara Untuk Ibu Menyusui
- Suatu cara yang dilakukan untuk merawat payudara agar air susu keluar dengan lancar.
 Perawatan Payudara
- Perawatan payudara telah dimulai sejak wanita hamil supaya putting susu lemas, tidak keras dan kering sebagai persiapan untuk menyusui bayinya.
- Dianjurkan sekali ibu untuk menyusui bayinya karena sangat baik untuk kesehatan bayi dan ibunya.
 Laktasi
Untuk menghadapi masa laktasi (menyusui) sejak dari kehamilan telah terjadi perubahan-perubahan seperti : Proliferasi jaringan pada kelenjar-kelenjar, adanya keluaran colostrum, hipervaskularisasi pada permukaan dan bagian dalam payudara, dan setelah melahirkan adanya pengaruh hormon laktogenik (LH) atau prolaktin yang akan merangsang air susu (banyak dalam 2-3 hari pasca persalinan).
 Perawatan Perinium
Perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil.
 Senam Nifas



3. PATOFISIOLOGI:

Post partum/masa nifas/puerperium

Aspek fisiologis Aspek psikososial


Tanda vital Sist.kardiovaskuler Sist.endokrin Sist.urinaria Kelahiran bayi


Sist.pencernaan Sist.muskuloskletal Reproduksi Perubahan dalam keluarga


Adaptasi Tidak beradaptasi
Suhu meningkat Sensasi eks.bawah
Breast engorgement Tromboplebitis
Edema Resiko ggn.proses parenting

Nyeri Ggn. Pemenuhan ADL Diuresis
Resiko gangguan proses laktasi Urgensi
Resiko infeksi puerperalis Urinary frekuency

Nafsu makan Meningkat Prod. Hormon turun.
Penurunan tonus abdomen Prolaktin meningkat Ggn. Eleminasi BAK
Prod. ASI
Resiko konstipasi Resiko ggn. Proses parenting

Bradikardia Involusi uteri
Takikardia involusi daerah impalntasi plasenta
Cerviks
Instability vasomotor Perubahan pd. vagina
Kencang pd clitoris dan labia
Diaporesis/menggigil Luka perineum
Pengeluaran kolostrum.
Gangguan rasa nyaman
Resiko infeksi puerperalis Ggn.rasa nyaman(nyeri)
Resiko ggn proses laktasi

Pemeriksaan Diagnostik Hasil:
1. Kondisi uterus: palpasi fundus, kontraksi, TFU.
2. Jumlah perdarahan: inspeksi perineum, laserasi, hematoma.
3. Pengeluaran lochea.
4. Kandung kemih: distensi bladder.
5. Tanda-tanda vital: Suhu 1 jam pertama setelah partus, TD dan Nadi terhadap penyimpangan cardiovaskuler. Kontraksi miometrium, tingkat involusi uteri.

Bentuk insisi, edema.

Rubra, serosa dan alba.
Hematuri, proteinuria, acetonuria.
24 jam pertama  380C.
Kompensasi kardiovaskuler TD sistolik menurun 20 mmHg.
Bradikardi: 50-70 x/mnt.
Diagnosa Keperawatan:
1. Resiko defisit volume cairan b/d pengeluaran yang berlebihan; perdarahan; diuresis; keringat berlebihan.
2. Perubahan pola eleminasi BAK (disuria) b/d trauma perineum dan saluran kemih.
3. Perubahan pola eleminasi BAB (konstipasi) b/d kurangnya mobilisasi; diet yang tidak seimbang; trauma persalinan.
4. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b/d peregangan perineum; luka episiotomi; involusi uteri; hemoroid; pembengkakan payudara.
5. Resiko infeksi b/d trauma jalan lahir.
6. Resiko gangguan proses parenting b/d kurangnya pengetahuan tentang cara merawat bayi.
7. Gangguan pemenuhan ADL b/d kelemahan; kelelahan post partum.

RENCANA KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Rencana Intervensi Rasional
Resiko defisit volume cairan b/d pengeluaran yang berlebihan; perdarahan; diuresis; keringat berlebihan.
Pasien dapat mendemostrasikan status cairan membaik.
Kriteria evaluasi: tak ada manifestasi dehidrasi, resolusi oedema, haluaran urine di atas 30 ml/jam, kulit kenyal/turgor kulit baik. Pantau:
- Tanda-tanda vital setiap 4 jam.
- Warna urine.
- Berat badan setiap hari.
- Status umum setiap 8 jam.
Beritahu dokter bila: haluaran urine < 30 ml/jam, haus, takikardia, gelisah, TD di bawah rentang normal, urine gelap atau encer gelap.
Konsultasi dokter bila manifestasi kelebihan cairan terjadi.
Pantau: cairan masuk dan cairan keluar setiap 8 jam. Mengidentifikasi penyimpangan indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.



Temuan-temuan ini mennadakan hipovolemia dan perlunya peningkatan cairan.

Mencegah pasien jatuh ke dalam kondisi kelebihan cairan yang beresiko terjadinya oedem paru.
Mengidentifikasi keseimbangan cairan pasien secara adekuat dan teratur.

Perubahan pola eleminasi BAK (disuria) b/d trauma perineum dan saluran kemih.
Pola eleminasi (BAK) pasien teratur.
Kriteria hasil: eleminasi BAK lancar, disuria tidak ada, bladder kosong, keluhan kencing tidak ada.
Kaji haluaran urine, keluhan serta keteraturan pola berkemih.
Anjurkan pasien melakukan ambulasi dini.

Anjurkan pasien untuk membasahi perineum dengan air hangat sebelum berkemih.
Anjurkan pasien untuk berkemih secara teratur.

Anjurkan pasien untuk minum 2500-3000 ml/24 jam.
Kolaborasi untuk melakukan kateterisasi bila pasien kesulitan berkemih. Mengidentifikasi penyimpangan dalam pola berkemih pasien.

Ambulasi dini memberikan rangsangan untuk pengeluaran urine dan pengosongan bladder.
Membasahi bladder dengan air hangat dapat mengurangi ketegangan akibat adanya luka pada bladder.
Menerapkan pola berkemih secara teratur akan melatih pengosongan bladder secara teratur.
Minum banyak mempercepat filtrasi pada glomerolus dan mempercepat pengeluaran urine.
Kateterisasi memabnatu pengeluaran urine untuk mencegah stasis urine.
Perubahan pola eleminasi BAB (konstipasi) b/d kurangnya mobilisasi; diet yang tidak seimbang; trauma persalinan.
Pola eleminasi (BAB) teratur.
Kriteria hasil: pola eleminasi teratur, feses lunak dan warna khas feses, bau khas feses, tidak ada kesulitan BAB, tidak ada feses bercampur darah dan lendir, konstipasi tidak ada. Kaji pola BAB, kesulitan BAB, warna, bau, konsistensi dan jumlah.
Anjurkan ambulasi dini.

Anjurkan pasien untuk minum banyak 2500-3000 ml/24 jam.

Kaji bising usus setiap 8 jam.
Pantau berat badan setiap hari.
Anjurkan pasien makan banyak serat seperti buah-buahan dan sayur-sayuran hijau. Mengidentifikasi penyimpangan serta kemajuan dalam pola eleminasi (BAB).
Ambulasi dini merangsang pengosongan rektum secara lebih cepat.
Cairan dalam jumlah cukup mencegah terjadinya penyerapan cairan dalam rektum yang dapat menyebabkan feses menjadi keras.
Bising usus mengidentifikasikan pencernaan dalam kondisi baik.
Mengidentifiakis adanya penurunan BB secara dini.
Meningkatkan pengosongan feses dalam rektum.
Gangguan pemenuhan ADL b/d immobilisasi; kelemahan.
ADL dan kebutuhan beraktifitas pasien terpenuhi secara adekuat.
Kriteria hasil:
- Menunjukkan peningkatan dalam beraktifitas.
- Kelemahan dan kelelahan berkurang.
- Kebutuhan ADL terpenuhi secara mandiri atau dengan bantuan.
- frekuensi jantung/irama dan Td dalam batas normal.
- kulit hangat, merah muda dan kering • Kaji toleransi pasien terhadap aktifitas menggunakan parameter berikut: nadi 20/mnt di atas frek nadi istirahat, catat peningaktan TD, dispnea, nyeri dada, kelelahan berat, kelemahan, berkeringat, pusing atau pinsan.
• Tingkatkan istirahat, batasi aktifitas pada dasar nyeri/respon hemodinamik, berikan aktifitas senggang yang tidak berat.
• Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktifitas contoh: penurunan kelemahan/kelelahan, TD stabil/frek nadi, peningaktan perhatian pada aktifitas dan perawatan diri.
• Dorong memajukan aktifitas/toleransi perawatan diri.

• Anjurkan keluarga untuk membantu pemenuhan kebutuhan ADL pasien.
• Jelaskan pola peningkatan bertahap dari aktifitas, contoh: posisi duduk ditempat tidur bila tidak pusing dan tidak ada nyeri, bangun dari tempat tidur, belajar berdiri dst.
• Parameter menunjukkan respon fisiologis pasien terhadap stres aktifitas dan indikator derajat penagruh kelebihan kerja jnatung.


• Menurunkan kerja miokard/komsumsi oksigen , menurunkan resiko komplikasi.

• Stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk menunjukkan tingkat aktifitas individu.


• Komsumsi oksigen miokardia selama berbagai aktifitas dapat meningkatkan jumlah oksigen yang ada. Kemajuan aktifitas bertahap mencegah peningkatan tiba-tiba pada kerja jantung.
• Teknik penghematan energi menurunkan penggunaan energi dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.
• Aktifitas yang maju memberikan kontrol jantung, meningaktkan regangan dan mencegah aktifitas berlebihan.

Gangguan rasa nyaman (nyeri) b/d peregangan perineum; luka episiotomi; involusi uteri; hemoroid; pembengkakan payudara.
Pasien mendemonstrasikan tidak adanya nyeri.
Kriteria hasil: vital sign dalam batas normal, pasien menunjukkan peningkatan aktifitas, keluhan nyeri terkontrol, payudara lembek, tidak ada bendungan ASI. • Kaji tingkat nyeri pasien.

• Kaji kontraksi uterus, proses involusi uteri.

• Anjurkan pasien untuk membasahi perineum dengan air hangat sebelum berkemih.
• Anjurkan dan latih pasien cara merawat payudara secara teratur.
• Jelaskan pada ibu tetang teknik merawat luka perineum dan mengganti PAD secara teratur setiap 3 kali sehari atau setiap kali lochea keluar banyak.
• Kolaborasi dokter tentang pemberian analgesik bial nyeri skala 7 ke atas. • Menentukan intervensi keperawatan sesuai skala nyeri.
• Mengidentifikasi penyimpangan dan kemajuan berdasarkan involusi uteri.
• Mengurangi ketegangan pada luka perineum.



• Melatih ibu mengurangi bendungan ASI dan memperlancar pengeluaran ASI.
• Mencegah infeksi dan kontrol nyeri pada luka perineum.






• Mengurangi intensitas nyeri denagn menekan rangsnag nyeri pada nosiseptor.
Resiko infeksi b/d trauma jalan lahir.
Infeksi tidak terjadi.
Kriteria hasil: tanda infeksi tidak ada, luka episiotomi kering dan bersih, takut berkemih dan BAB tidak ada. • Pantau: vital sign, tanda infeksi.



• Kaji pengeluaran lochea, warna, bau dan jumlah.
• Kaji luka perineum, keadaan jahitan.





• Anjurkan pasien membasuh vulva setiap habis berkemih dengan cara yang benar dan mengganti PAD setiap 3 kali perhari atau setiap kali pengeluaran lochea banyak.
• Pertahnakan teknik septik aseptik dalam merawat pasien (merawat luka perineum, merawat payudara, merawat bayi). • Mengidentifikasi penyimpangan dan kemajuan sesuai intervensi yang dilakukan.
• Mengidentifikasi kelainan pengeluaran lochea secara dini.
• Keadaan luka perineum berdekatan dengan daerah basah mengakibatkan kecenderunagn luka untuk selalu kotor dan mudah terkena infeksi.
• Mencegah infeksi secara dini.








• Mencegah kontaminasi silang terhadap infeksi.
Resiko gangguan proses parenting b/d kurangnya pengetahuan tentang cara merawat bayi.
Gangguan proses parenting tidak ada.
Kriteria hasil: ibu dapat merawat bayi secara mandiri (memandikan, menyusui). • Beri kesempatan ibu untuk melakuakn perawatan bayi secara mandiri.
• Libatkan suami dalam perawatan bayi.




• Latih ibu untuk perawatan payudara secara mandiri dan teratur.



• Motivasi ibu untuk meningkatkan intake cairan dan diet TKTP.
• Lakukan rawat gabung sesegera mungkin bila tidak terdapat komplikasi pada ibu atau bayi. • Meningkatkan kemandirian ibu dalam perawatan bayi.


• Keterlibatan bapak/suami dalam perawatan bayi akan membantu meningkatkan keterikatan batih ibu dengan bayi.
• Perawatan payudara secara teratur akan mempertahankan produksi ASI secara kontinyu sehingga kebutuhan bayi akan ASI tercukupi.
• Meningkatkan produksi ASI.


• Meningkatkan hubungan ibu dan bayi sedini mungkin.


DAFTAR PUSTAKA


Fanista. 2009. Asuhan Keperawatan : Maternitas Periode Pasca Partum. Available from : www.fanista.blogspot.com. Diunduh pada 4 Desember 2009
Doengoes, Marylin E., Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Jakarta: Peneribit Buku Kedokteran EGC
Wikyasastro, Hani. 1997. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo
Yunitasari, Esty. 2008. Asuhan Keperawatan Post Partum. Available from : pdf. www.google.com. Diunduh pada: 13 Desember 2009
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar